Friday, 17 March 2017

Guru Pesantren Al Zaytun Dipecat Gumilang Tanpa Alasan




Sebanyak 116 guru Yayasan Pondok Pesantren Al-Zaytun di Indramayu, Jawa Barat, yang dipecat secara sepihak oleh yayasan, meminta bantuan ke Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) di Jakarta Pusat.

Mereka menuntut tindakan semena-mena pimpinan yayasan, Panji Gumilang, diusut tuntas oleh pihak berwenang.

Dalam aduan yang diajukan pada Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), para pengajar Al-Zaytun ini memaparkan tidak ada pemberitahuan terlebih dulu mengenai alasan pemecatan.

Mereka dipecat secara sepihak sejak 1 januari 2017 dan hingga kini tidak diperbolehkan masuk kawasan pesantren untuk meminta penjelasan dari pihak yayasan.

Para gur mengadukan sang pemimpin yayasan, Panji Gumilang, atas dugaan tindak korupsi dari dana BOS atau Bantuan Operasional Sekolah.

Pihak FSGI akan meneruskan aduan para guru yang dipecat ke sejumlah instansi, seperti ke Kementerian Agama, Ombudsman, Komnas HAM, pemerintah setempat, dan penegak hukum.

Sumber TribunNews

Friday, 10 March 2017

Panji Gumilang Dijebloskan ke Lapas Indramayu



Lama tak tersiar kabarnya, tiba-tiba dari Indramayu terbetik berita jika tokoh puncak Pondok Pesantren Modern Al-Zaytun, Panji Gumilang, telah dieksekusi oleh tim Kejaksaan Negeri (Kejari) Indramayu. Petugas menjebloskan Panji Gumilang ke sel penjara Lapas Klas II B Indramayu. Pria yang kerap dikait-kaitkan sebagai dedengkot kelompok Negara Islam Indonesia (NII) itu terlibat kasus pemalsuan dokumen Yayasan Pesantren Indonesia (YPI).

Kabidhumas Polda Jabar Kombes Pol Sulistyo Pudjo Hartono membenarkan informasi tersebut.
“Telah dilaksanakan eksekusi terhadap Panji Gumilang, Pimpinan Ponpes Alzaytun, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, oleh Kejaksaan Negeri Indramayu,” kata Pudjo via pesan singkat, Selasa (31/3), seperti diberitakan detikcom (31/3).

Kasie Penkum Kejati Jabar Suparman juga membenarkan hal ini. Menurutnya tim jaksa yang mengeksekusi dipimpin oleh Bima Yudha Asmara. “Eksekusi dilakukan pukul 13.00 WIB di Kejari Indramayu. Panji Gumilang dibawa ke Lapas Indramayu,” ujar Suparman saat dihubungi melalui telepon.
Menurut putusan kasasi No:665 K/Pid 2014 Tanggal 29 September 2014, Panji dijatuhi putusan pidana hukuman penjara selama 10 bulan. “Jadi dia dieksekusi untuk menjalani hukuman selama 10 bulan,” kata Suparman.

Kasus pemalsuan dokumen Yayasan Pesantren Indonesia yang menjerat tersangka Panji ditangani Bareskrim Polri pada 2011. Kasus ini bergulir ke meja hijau.
Panji divonis 10 bulan penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Indramayu pada Mei 2012. Pimpinan Ponpes Alzaytun tersebut dinilai bersalah dalam kasus pemalsuan akta autentik sesuai Pasal 266 jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP. Vonis tersebut lebih rendah dari tuntutan jaksa penuntut umum yaitu dua tahun enam bulan. Panji sempat mengajukan banding dan kasasi, namun proses upayanya mencari keadilan ditolak.(rz)

Sumber Eramuslim

Wednesday, 4 May 2011

Panji Gumilang Bersabda Ummat NII KW9 Sampah


"Saya mengelola usaha pengolahan sampah"
(Abu Maarik/Panji Gumilang/Abu Toto/Toto Salam/ASPG)

VIVAnews - Abu Maarik ternyata menyetorkan dananya langsung ke kantor pusat Bank CIC, di Fatmawati, Jakarta Selatan. Seorang mantan karyawan Bank CIC mengatakan, Abu Maarik datang sekitar setengah atau sebulan sekali menyetorkan duitnya ke bank milik Robert Tantular itu.

Bila dia datang, para teller pusing, karena harus menghitung uang receh sampai ratusan juta rupiah. Saat itu tidak ada ratusan ribu, adanya pecahan Rp50 ribu, Rp20 ribu, Rp10 ribu, dan pecahan-pecahan kecil. "Uangnya semuanya kucel," kata sumber VIVAnews.com, Selasa 3 April 2011.

Setiap kali datang, Abu Maarik menyetor hingga Rp200 juta. "Pada 1996, uang Rp200 juta sangat besar," katanya.

Dia menceritakan, Abu Maarik yang beralamat di Indramayu ini hanya mau dilayani seorang manajer di bank itu. Selain manajer, hanya Robert Tantular. "Dua orang itu saja," ujarnya.

Karena kantornya sempit, setiap kali Abu Maarik datang, selalu menjadi perhatian karyawan. Saat pembicaraan pun, sebagian karyawannya bisa mendengar.

Sumber ini menambahkan, karena penasaran dengan banyaknya uang yang disetor, dia sempat bertanya apa bisnis Abu Maarik. "Saya mengelola usaha pengolahan sampah," kata dia menirukan Abu Maarik.

Di CIC, Abu Maarik menjadi nasabah kelas kakap dengan simpanan miliaran rupiah. Sehingga sejumlah layanan pun diberikan cuma-cuma. Abu Maarik bisa meminjam uang ratusan juta atau bahkan miliaran rupiah dengan jaminan uang simpanan itu. "Fasilitas kredit back to back ini tidak diberikan kepada setiap nasabah."

Uang miliaran rupiah ini sebenarnya pernah tercium Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Pada rapat dengar pendapat dengan Pansus Century Dewan Perwakilan Rakyat, Ketua PPATK Yunus Huein mengatakan, ada simpanan sangat besar, yaitu Rp46,2 miliar milik Abu Maarik. Namun dia tak menjelaskan siapa Abu Maarik ini.

Ketua Tim Pengawas Kasus Bank Century di DPR Priyo Budi Santoso sempat mendesak pengusutan dana miliaran rupiah di Bank Century yang diduga milik jaringan Negara Islam Indonesia (NII). "Kami meminta dan mendesak aparat penegak hukum, termasuk Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) segera mengungkap dana itu," kata Priyo di Gedung DPR, Jakarta, Jumat, 29 April 2011.

Imam Supriyanto, mantan "menteri" NII yakin nama Abu Maarik itu tak lain Abu Toto alias Syeikh Panji Gumilang, pemimpin Pesantren Al Zaytun, Haurgeulis, Idramayu, Jawa Barat. "Wajah Abu Maarik ini mirip sekali dengan Panji Gumilang yang saya lihat di televisi. Bedanya, dulu masih kurus."

Abu Toto sendiri kepada wartawan tvOne Riga Danniswara, membantah bila dikaitkan dengan NII. Menurut Toto, perjuangan NII telah berakhir setelah Kartosoewiryo meninggal pada 5 September 1962. "Itu adalah fase turun gunung, semua kembali ke Ibu Pertiwi [pemerintahan Republik Indonesia]," ujar dia di kediaman pribadinya, di kompleks Mahad Al Zaytun, Jumat 29 April 2011.

Sources : Vivanews.com