Thursday, 3 August 2006

Pernikahan Petinggi Mahad Alzaytun

Oleh Sitti Rahmee bt. Abdollah
imageAKHIR Juli 2006, saya dan suami menghadiri resepsi perkawinan anak teman saya, kebetulan orangtua (keluarga) dari pihak mempelai pria maupun wanita kami kenal betul, mereka adalah pengurus Ponpes Al-Zaytun. Sebuah Ponpes yang konon termegah di Asia Tenggara. Resepsi berlangsung di Gedung Depnaker, Jalan Jen. Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Sejak dari rumah, saya membayangkan resepsi pernikahan yang digelar tentulah Islami, karena kedua belah pihak adalah pengurus Ponpes Al-Zaytun yang pernah diresmikian Prof. B.J. Habibie pada tanggal 27 Agustus 1999, semasa beliau masih menjabat sebagai Presiden RI ketiga.

Namun, betapa terkejutnya, ketika melihat kenyataan di depan mata, resepsi digelar dalam nuansa barat, penerima tamu pria berbanjar mengenakan jas, ada beberapa penerima tamu wanita yang berkerudung. Begitu juga dengan tuan rumah dari kedua belah pihak, mengenakan jas lengkap seperti orang barat. Ruang resepsi dipenuhi live music bernuansa Timur Tengah.

Ketika kedua mempelai memasuki ruang resepsi, live music semakin keras dan kian bersemangat menyambut kedatangan keduanya. Mempelai wanita mengenakan gaun pengantin sebagaimana bisa dilihat pada acara perkawinan umat Kristen di gereja. Rambut mempelai wanita tak bertutup, dan dihias sedemikian rupa indahnya.

Resepsi digelar dalam format standing party, makan dan minum sambil berdiri, tidak disediakan kursi. Laki-laki dan perempuan campur aduk, saling bersalaman satu sama lain, begitu juga dengan kedua mempelai yang menerima ucapan selamat (bersalaman) dari setiap tamu.

Rasanya, kejadian ini cuma sebuah kejutan kecil dari komunitas Al-Zaytun. Sejak pertama kali diresmikan, Al-Zaytun selalu menyuguhkan kejutan-kejutan. Khalayak penonton televisi pernah dikejutkan oleh pemberitaan keberadaan Ponpes termegah di Asia Tenggara, bahkan ada yang menyebutnya termegah di Asia.

Ponpes bernama Al-Zaytun itu, berdiri di atas tanah berhektar-hektar. Semula tanah itu merupakan tanah produktif milik rakyat setempat yang diperoleh dengan berbagai cara. Antara lain, disebarkan isu bahwa di atas tanah itu akan dibangun sebuah proyek besar milik ABRI.

Dan yang lebih mengejutkan lagi, berkenaan dengan sosok pimpinan Al-Zaytun yang menyebutkan dirinya Syaikh Al-Ma’had Al-Zaytun A.S. Panji Gumilang. Ternyata, dia adalah Toto Salam alias Abu Toto, aktivis NII-KW9 yang sesat itu.

Pada tahun 1980, elite NII KW-9 ditangkap aparat, namun Abu Toto berhasil meloloskan diri dan kabur ke Malaysia (Sabah). Abu Toto kabur bersama uang jamaah yang jumlahnya konon mencapai miliaran rupiah.

Sosok ini kembali ke Indonesia hampir satu dasawarsa kemudian, yaitu sekitar tahun 1989. Ia kemudian menjadi bagian dari kelompok Haji Karim Hasan, yang pernah menjadi bagian dari gerakan NII namun akhirnya mengundurkan diri (1983) karena memiliki pemahaman yang menyimpang.

Penyimpangan Haji Karim Hasan antara lain berupa pendapat bahwa meski sosok Rasul sudah berakhir pada diri Nabi Muhammad, namun sebagai sebuah lembaga tetap berlanjut. Untuk itulah setelah keluar dari NII Haji Karim Hasan membentuk komunitas bernama Lembaga Kerasulan. Sebuah lembaga yang menjalankan fungsi Rasul, dan Haji Karim Hasan adalah pimpinan lembaga tersebut.

Ajaran Lembaga Kerasulan antara mengatakan, shalat belum wajib karena saat ini umat Islam masih berada dalam periode Madinah, belum Futuh Mekah.

Sekembalinya dari Sabah, Abu Toto berhasil meyakinkan Haji Karim Hasan untuk ‘kembali’ kepada ‘manhaj’ NII. Akhirnya mereka membentuk NII KW9, dan duduk sebagai Imam adalah Haji Karim Hasan. Di tempat ini, doktrin sesat Lembaga Kerasulan tetap dijalankan.

Setelah Haji Karim Hasan meninggal, kepemimpinan dilanjutkan oleh Haji Rais Ahmad. Banyak saksi mata yang melihat kematian Haji Karim Hasan sebagai “tidak layak untuk diceritakan”, karena mereka takut digolongkan sebagai “membuka aib” orang yang sudah meninggal.

Tahun 1992, Abu Toto merekayasa sebuah kejadian yang membuat Haji Rais Ahmad ditangkap, ditahan tanpa proses pengadilan hingga 1997 (meninggal di tahanan). Sejak Haji Rais Ahmad mendekam di penjara, Abu Toto mengambil alih kepemimpinan. Ia semakin giat menerapkan doktrin sesat ala Lembaga Kerasulan, bahkan semakin canggih menerapkan doktrin sesat tersebut. Antara lain, dalam hal mengumpulkan ‘dana perjuangan’ yang membolehkan mencuri harta milik orang kafir. Yang dimaksud orang kafir adalah siapa saja selain anggota kelompok mereka.

Modus operandi yang hingga kini masih dipraktekkan adalah berpura-pura menjadi pembantu rumah tangga, setelah sekian lama bekerja, dan dapat dipercaya, kemudian menguras harta majikan. Modus seperti ini di tahun 2006 ini masih saja terjadi, namun tidak sedahsyat tahun-tahun sebelumnya (2001 ke bawah).

Banyak cara lain yang diterapkan Abu Toto untuk menyedot dana umat, dengan menggunakan istilah-istilah berbau agama padahal sama sekali tidak ada aturannya dalam Islam. Bahkan zakat fitrah dan Qurban dilombakan untuk mengeruk dana sebesar-besarnya. Ini terjadi ketika Abu Toto sudah mendirikan Al-Zaytun. Dan yang menjadi sasarannya adalah para santri, mereka sampai merengek-rengek kepada orangtuanya agar diberikan dana yang lebih besar untuk kedua hal tadi.

Begitulah ajaran sesat Lembaga Kerasulan, pada satu sisi shalat belum diwajibkan, namun untuk urusan yang berbau duit, seperti zakat fithrah, Qurban, dan sebagainya, sudah diwajibkan meski belum Futuh Mekah.

Dua tahun kemudian, 1994, Abu Toto tidak dipercaya lagi oleh seluruh jamaah NII KW9. Sebanyak 800 jamaah NII KW9 mengundurkan diri. Justru, ke-800 jamaah inilah yang ditangkap aparat, dijebloskan ke penjara. Sementara itu Abu Toto tetap eksis memimpin NII KW9, dan terus melanjutkan doktrin sesat Lembaga Kerasulan, dan semakin piawai mencekik leher umat (jamaahnya) dengan berbagai pungutan yang dibuat-buat.

Tahun 1999 terlihat hasilnya, berupa bangunan megah bernama Ponpes Al-Zaytun yang berdiri angkuh di antara penduduk sekitar yang miskin.

Beberapa bulan kemudian, sekitar akhir 1999, Kepala Badan Intelijen (BAKIN) Letjen Purn ZA Maulani, pernah diminta melakukan negosiasi atas nama AS Panji Gumilang (alias Abu Toto) untuk berhadapan dengan Al Chaidar, misinya meminta Al Chaidar tidak usah menerbitkan buku tentang masa lalu Abu Toto yang berkaitan dengan Al-Zaytun.

Pertemuan antara Al Chaidar dengan Maulani dijembatani oleh Zaenal Muttaqin. Ketika itu, Zaenal Muttaqin (yang kala itu menjabat sebagai pemimpin redaksi majalah Sabili) membawa Al Chaidar ke rumah makan Sate Pancoran. Di sana ternyata sudah hadir ZA Maulani. Negosiasi pun berlangsung, dan Al Chaidar akan menghentikan rencana penerbitan buku yang sedang disusunnya bila mendapat uang kompensasi sebesar satu miliar rupiah. Sayangnya, saat itu tidak ada kesepakatan yang bisa dihasilkan. Maka, buku berjudul “Sepak Terjang KW9 Abu Toto Syekh A.S. Panji Gumilang Menyelewengkan NKA-NII Pasca S.M. Kartosoewirjo” terbit pada bulan Januari 2000.

Zaenal Muttaqin pria kelahiran 13 Agustus 1963 di Labuan (Banten) adalah mantan aktivis PII (Pelajar Islam Indonesia) yang dikenal dekat dengan pati TNI seperti Prabowo Subianto, Brigjen Adityawarman, ZA Maulani, Mayjen Kivlan Zein (yang oleh Gus Dur pernah disebut dengan julukan “Mayjen K” ketika kasus Ambon pertama kali meledak), Muchdi PR (terakhir sebagai salah satu Deputi Kepala BIN ketika BIN dijabat Hendropriyono). Pada suatu ketika para pemegang saham meminta Zaenal untuk meninggalkan posisinya di Sabili, konon karena ada masalah keuangan. Di masa Zaenal, Sabili merupakan salah satu pembela Al-Zaytun. Sekarang tidak lagi.


image

image

The Pictures above can Tell



image

And What is This ?



Baca Bukunya : "MEMBONGKAR GERAKAN SESAT NII AL-ZAYTUN"
oleh Umar Abduh




20:38 / by / 6 Comments

6 comments:

Anonymous said...

Buku "Membongkar Kesesatan Al Zaytun" bisa dibeli di mana?

Anonymous said...

Asslmkm' Dunia , Saya mantan NII, tapi saya sering menangis. mengapa orang2 menghina NII,kapankah NII akan berdiritegak di Dunia, Ya Allah apa yang aku bisa buat untuk KerajaanMu? Engkau berikan syurga yg tak bisa dibayar dengan apapun,kecuali diri dan harta. Wahai dunia!sadarlah bahwa kita masih seperti buih dilautan yang digambarkan Rasulullah.Mulailah bersatu dan tolong agama Allah SWT.

Anonymous said...

aku mantan NII, tapi hatiku masih tergantung disana,aku ingin negaraku Negara Allah, Hanya Allah sebagai Raja,Harta sekarang ini adalah senjata untuk menghancurkan musuh2 Islam, lihatlah Israel mencabik-cabik islam seperti binatang buas yg kelaparan, mampukah kita mengirim rudal yang harganya lebih dari harga rumah kita?

gumilang said...

NII KW9 adalah binaan intelijen yang merupakan gerakan makar untuk mengacaukan kebangkitan Islam di Indonesia. Ajarannya sesat dan menyesatkan. Berhati hatilah wahai Kaum Muslimin, orang orang yang memusuhi Islam senantiasa membuara rekayasa makar, tapi makar Allah lebih hebat dari makar mereka. Wamakaru wamakarolloh Innallooha khoirul maakiriin.

gumilang said...

Gerakan NII KW9 adalah gerakan makar binaan intelijen yang tujuannya untuk mengacaukan kebangkitan Islam di Indonesia. mereka menipu dan memeras kaum Muslimin yang berhasil mereka bodohi demi untuk memenuhi nafsu sahwat mereka. Terkutuklah perbuatan busuk mereka semoga Allah segera menampakkan keburukan dan membalas segala makar dan tipu daya mereka. Wamakaru wamakaroLloh Innalloha khoirul maakiriin.

Anonymous said...

Salam. Saya adalah mantan anggota NII angkatan tahun 1990. Dulu walaupun saya sudah keluar karena tidak tahan dengan segala kerusakan terhadap umat yang ditimbulkannya, baik kerusakan moril maupun materil. Tapi saya masih suka membelanya,yang saya bela adalah cita2nya bukan oknumnya.Namun kini saya sadar bahwa, semuanya ini adalah jebakan belaka, bagi orang yang setuju dengan pendirian Negara Islam. Mereka bak laron yang di undang berkumpul mengelilingi lampu yang justru akan membakar mereka sendiri, atau yang jatuh akan tenggelam di air dalam baskom yang disediakan di bawahnya. keji Nian.

Post Top Ad