Wednesday, 5 September 2007

NII KW9 Incar Pelajar Depok

Waspada! NII Incar Pelajar Depok
ADALAH Diah (nama samaran), seorang pelajar kelas tiga sebuah sekolah menengah umum (SMU) negeri di wilayah Depok yang sedang dilanda kemelut lantaran teman sekelasnya, Dani (nama samaran), tiba-tiba berubah sikapnya secara drastis. Bukan hanya menjauh dari teman-temannya, tapi juga menjadi pribadi yang tertutup.

Menurut Diah, dua minggu sebelumnya, Dani berkenalan dengan seorang mahasiswa yang mengaku sebagai alumni SMU tersebut dan mengajak Dani untuk ikut serta dalam kegiatannya. Seminggu berselang, Dani mulai bolos sekolah dan mulai memperlihatkan gelagat aneh, dan sikapnya yang riang menjadi serius, dan yang “rame” jadi pendiam. Bukan hanya itu, Dani juga mulai berbohong kepada teman-temannya untuk mendapatkan uang, salah satunya dengan alasan harus menggantikan laptop teman yang dihilangkannya.

Teman-teman sekolahnya semakin curiga ketika Dani mengajak dua temannya yang aktif di dalam Rohis (Rohani Islam) untuk ikut senta dalam kegiatannya. Kedua teman Dani itu pun, menurut Diah, berubah seperti Dani. Khawatir tentang langkah Dani dan temannya yang terus bergerilya merekrut teman-teman sekolahnya, Diah mulai mencari tau apa yang terjadi. Usut punya usut, ternyata Dani dan kawan-kawan telah masuk dalam sebuah gerakan yang menamakan dirinya Negara Islam Indonesia (NII) atau lebih dikenal dengan istilah N11.

Kasus Lama Modus Baru
Berbicara tentang NII atau N11 bukan merupakan barang baru. Dalam runutan sejarah, gerakan ini mewarnai perjuangan kemerdekaan Indonesia, walaupun kemudian dianggap sebagai pemberontak. Sedangkan akhir-akhir ini, paling tidak lima tahun belakangan, NII muncul lagi dan menyita perhatian publik, terutama bagi orang tua yang memiliki anak-anak pada jenjang sekolah SMU dan mahasisva. Pasalnya, fokus utama perekrutan mereka adalah para pemuda pada rentang umur produktif.

Depok, telah lama menjadi salah satu basis paling subur bagi perekrutan gerakan ini. Selain banyaknya lembaga pendidikan dan tingkatan SMU maupun tingkat perguruan tinggi, Depok juga menyediakan tempat aman sebagai media perekrutan mereka yang tersebar di kos-kosan maupun rumah-rumah kontrakan. Mereka sangat jeli melihat peluang tersebut, karena tidak ada yang curiga bila aktivitas di kos-kosan mahasiswa berjalan terus-menerus. Masyarakat sekitar, umumnya, beranggapan para pemuda itu berkumpur untuk belajar.

Tempat lain di Depok yang juga digunakan sebagai sarana penunjang perekrutan anggota gerakan ini adalah food court pada beberapa mal sepanjang jalan Margonda. Modus perekrutan di mal-mal merupakan cara baru yang dikembangkan untuk menarik mangsanya lebih mudah dan membuat lokasi markas mereka relatif lebih aman lantaran semuanya bergerak di luar. Hanya pada tahap tertentu saja, para korban yang akan menjadi anggota diperbolehkan untuk masuk ke markas mereka. itu pun, dalam beberapa kasus, harus menutup matanya demi alasan keamanan.

Tidak seperti gerakan Islam lain, NII hamper tidak memiliki ciri, baik secara tampilan fisik maupun sikapnya. Mereka membaur dengan masyarakat dan serupa dengan para pemuda seumurnya. Sehingga sulit untuk dideteksi, kecuali hanya oleh orang-orang terdekatnya saja. Kasus Dani hanya satu dari ribuan kasus yang menjangkiti para pelajar dan mahasiswa. Walaupun banyak informasi yang beredar tentang gerakan ini, tetap saja korban berjatuhan. Ini membuktikan lemahnya perhatian dari keluarga, lingkungan sekitar maupun dari pemerintah yang seharusnya mampu mengantisipasi gerakan ini.

Dari Mahasiswa ke Pelajar SMU
Fenomena gerakan NII banyak mendapatkan perhatian masyarakat, namun hanya sedikit yang benar-benar peduli untuk mengambil tindakan. Diantara yang peduli adalah Aliansi Mahasiswa Korban NII KW9, organisasi yang menyoroti khusus masalah NII di kalangan mahasiswa dan pelajar.

Ditemui di sela-sela kesibukannya, sekretaris Aliansi Mahasiswa Korban NII KW9, Reza Baizuri, menjelaskan kepada VlSI Plus bahwa NII yang bergerak sekarang berbeda dengan NII Kartosuwiryo dahulu, walaupun merek√° menggunakan bungkus ideologi NII.

“Yang bergerak sekarang adalah NII KW9 atau Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9 yang merupakan pecahan NII, namun menyimpang dan khittah NII serta keluar dari pemahaman Al Qur’an dan sunah yang umum,” tegas Reza. Menurutnya, NII yang sekarang merebak di kalangan pelajar dan mahasiswa merupakan organisasi kriminal yang menghalalkan segala cara untuk memenuhi program kelompoknya.

Dari pantauan Aliansi Mahasiswa Korban NII KW9, laporan terakhir dari para korban, perekrutan sekarang mengambil dari kalangan SMU dimana sebelumnya mahasiswa menjadi target utama. Pasalnya, sudah banyak langkah yang diambil mahasiswa untuk mengantisipasi gerakan ini, seperti mengadakan sosialisasi tentang NII lewat seminar-seminar di kampus. Walhasil, gerakan ini terhambat ruang geraknya dengan semakin banyaknya mahasiswa yang mengetahui pola dan doktrin dan gerakan NII.

Berbeda dengan pola perekrutan di kalangan mahasiswa, untuk SMU muncul cara-cara baru yang digunakan dalam menjebak para korbannya. Menurut salah satu korban NII dari kalangan pelajar SMU yang berhasil ditemui VlSI Plus, Akbar (nama samaran), mengatakan bahwa dirinya direkrut NII lewat wawancara acak yang dilakukan oleh orang yang mengaku sebagai senior SMU-nya.

“Awalnya ada yang nelpon, katanya senior mau wawancara. Saya mau aja waktu itu. Kita ketemu di food court terus diajak makan”, jelas Akbar. Meneruskan ceritanya, Akbar kemudian menemui “seniornya” kembali sampai tiga kali pertemuan sebelum akhirnya dibawa ke markas mereka untuk mendapatkan materi dari pimpinan-pimpinan kelompok ini. “Karena ngomongnya Islam saya jadi semangat”, katanya menambahkan.

Namun, tanpa disadari Akbar sudah terlena dengan doktrin yang disampaikan. Perubahan pun mulai terlihat. Aktivitasnya terhambat dan terfokus pada gerakan yang baru digelutinya. “Saya terus disuruh hijrah dan harus cari shadaqoh. Saya sudah setor 2,3 juta yang saya dapat dari membohongi orang tua dan teman-teman dengan alasan mengganti kerusakan mobil yang ditabraknya,” tambahnya. Menanggapi pertanyaan kenapa memutuskan keluar, Akbar mengatakan bahwa banyak hal yang aneh terjadi, seperti malasnya mereka shalat, terlalu mengkafirkan orang di luar kelompoknya dan menghalalkan penipuan demi memenuhi kebutuhan programnya yang selalu berfokus pada sisi finansial.

Akbar juga menjelaskan, kalau untuk keluar dari NII tidaklah mudah, butuh keberanian dan pentolongan teman-teman terdekat. “Sulit untuk keluar walau sudah tau ada yang aneh, karena kita tidak boleh bicara kepada siapa-siapa, semuanya serba rahasia. Itu juga saya beranikan diri untuk bertanya kepada senior saya ketika mentoring sehingga saya mendapat jawaban dan dibantu untuk keluar dari sana,” tambah Akbar.

Butuh Kepedulian
Merebaknya kasus NII di kalangan pelajar menbutuhkan perhatian lebih dari semua pihak. Masalahnya, dampak yang dihasilkan dari doktrin kelompok ini akan menghancurkan pribadi seseorang yang menjadi anggotanya. Secara otomatis, waktu dan aktifitasnya akan beralih kepada gerakannya, sehingga hubungan sosial dengan keluarga, teman, dan pendidikan akan terpisah dengan sendirinya. Yang lebih buruk lagi adalah proses pencucian otak yang menyebabkan setiap anggotanya akan taat kepada pimpinannya walaupun diarahkan ke tujuan yang salah, termasuk melakukan tindakan kriminal.

Depok sebagai wilayah yang disesaki lembaga pendidikan setingkat SMU dan perguruan tinggi harus lebih waspada menanggapi hal ini. Jangan sampai pendidikan yang diupayakan sebagai peningkatan sumber daya manusia dan mencerdaskan kehidupan bangsa justru ternodai oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Telah banyak mahasiswa yang cuti dan drop out lantaran waktunya tersita dan uang kuliahnya habis untuk memenuhi setoran. Para pelajar yang harus hancur nilainya karena sudah tidak peduli dengan pendidikannya. Atau orang tua yang bingung karena kehilangan anaknya yang tidak kembali lagi sejak masuk gerakan ini. Dan masih banyak lagi kasus-kasus yang tidak terselesaikan menunggu tanggapan.

Dibutuhkan kepedulian dari semua pihak untuk bersama-sama memikirkan solusi atas masalah ini. Korban terus berjatuhan. Dan setiap korban akan mengorbankan kedua orang tuanya, teman-temannya dan pendidikannya. Ini bukan hanya masalah keluarga, bukan juga masalah agama semata, tetapi masalah sosial yang harus dipikul bersama dalam menanggulanginya. ■Anto

Sumber: Tabloid Dwimingguan VISI Plus (Media Pendidikan & SDM), No.02/Thn.I/20 Agustus – 02 September 2007, Rubrik: Visi Depok Bogor, halaman 11

No comments: