Monday, 8 October 2007

NII / NKA Abu Toto dan ex Masul


Source : Ex-Exponen NII Zaytun

# dicky Berkata:
Oktober 7th, 2007 pada 2:29 pm

Untuk bang AMIN,

Pada tahun 1993, Syamsul Alam alias Abu Toto diangkat menjadi Mudabir bi Yabah menggantikan H. Rais Ahmad yang baru saja tertangkap KODIM setelah memimpin KW9 selama delapan bulan. Konon, menurut para petinggi KW9 yang pernah bersama Abu Toto, ada kemungkinan “main mata” antara Syamsul Alam dengan KODIM untuk melengserkan H. Rais Ahmad untuk kemudian menaikkan dirinya. Ketika mulai memimpin, secara sitemik dan struktur, Syamsul Alam merubah sistem yang ada, terutama untuk maasalah keuangan. Muncullah keputusan-keputusan yang dinamakan qoror. Qoror-qoror turun bertahap, seperti qoror harakah ramadhan, harakah qurban dan haraqah qirodh. Nah, untuk kasus yang ente sebutkan diatas, alokasi dana untuk qirodh menimbulkan euphoria perjuangan yang begitu besar. sehingga, dengan gaya kepemimpinannya yang lebih lugas dan rapi, Abu Toto mampu “menyihir” jamaahnya untuk mengorbankan seluruh hartanya untuk kepentingan perjuangan. Harakah qirodh adalah pinjaman negara atas umat dalam bentuk emas. Karena bentuknya pinjaman, maka negara wajib mengembalikan semua yang pernah disetorkan bersama dengan faedahnya sebesar 50% setiap lima tahunan. Hampir semua mas’ul dan umat yang konsis pada tahun-tahun itu berlomba-lomba memperbanyak setorannya. Mereka berfikir, waktu itu, akan kaya ketika dikembalikan, tentu dengan premis umum yang mengamankan Syamsul Alam, para mas’ul kan memegang amanaha, NII kan negara yang benar, tidak mungkin berbuat dzalim. Tapi, ternyata mereka salah.

Hingga kini, harakah qirodh masih dipungut, terutama sebagai syarat untuk tahkim, munakahat dan tartib bagi para mas’ul. Tapi besarnya tidak sefantastis dulu. Paling hanya kisaran satu hingga lima gram per orang per acara. Tapi, banyak juga ya kalau dihitung secara kolektif.

Harakah qirodh, dalam sejarah NII, hanya berlaku pada era Syamsul Alam alias Abu Toto. Dan, telah memberikan dirinya dana milyaran rupiah. Bahkan, pada tahun-tahun itu, para petinggi KW9 yang ada di sekeliling Abu Toto mendapat rumah di komplek BULOG Kranggan. Serta sebuah rumah mewah di DEsa Limo Cinere untuk Abu Toto yang kini ditempati oleh anak perempuannya (anak perempuan abu toto : sofia alwidad, anis)) yang sedang berkuliah di UIN Syarif Hidayatullah.

Haraqah qirodh dialokasikan, seharusnya, untuk penguasaan letak strategis, seperti pembelian tanah. Salah satunya di Indramayu yang sekarang menjadi ma’had Al Zaytun. Sejauh ini, hanya jamaah dan mas’ul saja yang berqirodh, para santri belum. Namun, untuk beberapa harakah, seperi qurban dan ramadhan, sudah diberlakukan umum untuk ssantri di Al Zaytun. Namun, jangan digeneralisir juga, tidak semua santri yang mondok di Al Zaytun anak orang NII ya. Hanya sepertiganya saja dari anak-anak mereka dan itu pun sebagian diberikan subsidi dari setoran para jamaah untuk Tabungan Pendidikan Anak (TPA). Jumlah santri selebihnya diambil dari masyarakat umum yang dikoordinir oleh para mas’ul wilayah yang berkamuflase dibawah Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) menjadi korwil untuk Al Zaytun di 28 propinsi di Indonesia.

Selama perjalanan kepemimpinan Syamsul Alam alias Abu Toto, 93-96 (sebagai komandan wilayah) dan 96 hingga kini (sebagai imam NII), telah banyak qorornya yang memakan korban. Jamaah yang menjual tanah dan rumah mungkin sebagian kecilnya saja. Kerusakan terbanyak hingga hari ini lebih meluas, hingga melakukan aksi-aksi kriminal. Teman-teman saya kebetulan banyak yang tertangkap untuk aksi penipuan dan pencurian. Diantara yang menjadi korbannnya, kini memberanikan diri untuk tampil dan meminta haknya. Apalagi setalah kasus pemberontakan Tentara Islam Indonesia (TII) di Al Zaytun yang melahirkan dekrit presiden 15 September 2001, beberapa mantan mas’ul daerah dan wilayah mulai menagih janji Abu Toto, terutama masalah qirodh. Beberapa ada yang datang ke Al Zaytun dan membuat rusuh disana sekitar tahun 2003an. Karena takut diketahui luas, akhirnya sang penagih dibayar setengah dari harta yang disetorkannya. Sejak itu, Al Zaytun tertutup untuk para mantan mas’ul. Paling tidak Abu Toto telah pasang kuda-kuda. Beruntun setelah kasus tersebut beberapa aksi pun dilakukan, terakhir sekitar empat bulan lalu. Dengan berbekal kwitansi pembayaran qirodh, mereka menagih. Namun, apa lacur, mereka dilempar sana-sini hingga cape dan hasil nihil. Banyak sekali alasannya. Intinya, mereka tidak mau bayar. Parahnya, mantan mas’ul yang menagih haknya ini dibilang perampok, pengkhianat dan harus dihindari. Subhanallah.

Yang harus dipahami dalam hal keuangan di NII KW9 dan Al Zaytun, semuanya bersifat sentralistik dan tidak ada audit. Untuk jaringan teritorial (di lima wilayah di Jawa) semua setoran untuk tingkat wilayah berpusat di rekening Abu Ma’ariq (nama alias Abu Toto juga, btw, nama aliasnya ada sembilan) di Bank CIC Jakarta. Sedangkan untuk jaringan fungsional yang mengatasnamakan korwil dan walisantri, semua setoran ke rekening AS Panji Gumilang lewat Bank Jabar. Dalam sistem penyetoran semua berjenjang sesuai dengan struktur. Dan, masing-masing struktur secara otomatis akan “menyunat” dana jamaah yang dikumpulkan dengan susah payah. Apa Pasal? Abis, mas’ulnya dapat dana dari mana untuk operasional? Tahukan anda, kalau gaji mas’ul desa di NII KW9 sebesar Rp. 125.000 saja per bulan. Itu pun hanya tanda tangan, selanjutnya diambil lagi untuk setoran yang kurang. Bagaimana tidak kurang, setiap bulan mereka harus memenuhi 9 pos keuangan wajib (tis’atal mawarid) dan 3-4 pungutan baru yang dilakukan di desa maupun kecamatan untuk kepentingan mareka.

Nah, namun, di NII KW9 strukturnya tersegmentasi. Ada yang jaringan buruh seperti di bekasi (91), pedagang di Jaktim (92) atau mahasiswa-pelajar di Jaksel (93) serta beberapa segmen lagi dari pembantu rumah tangga dan para tukang batu (Jakpus dan Jakut). Coba bayangkan, dari mana 5000 orang Muwadzaf (karyawan pembangunan) Al Zaytun datangnya kalau bukan dari para mas’ul teritorial yang dipindahkan ke fungsional. Dari segmen diatas, setoran dihasilkan dari bebagai macam cara.

Yang jelas, untuk masalah dana, tidak akan berhenti dalam waktu dekat, kecuali Allah memberikan pelajaran tegas kepada mereka. Jadi, para jamaah dan mas’ul, hingga hari tuanya dari masa produktifnya, hanya akan terkungkung oleh pola, modus, cara untuk bagaimana menghasilkan uang. Termasuk ente, Bang AMIN, akan melakukan hal yang sama bila terus berkutat di dalamnya. Ini dulu yang bisa dijawab, semoga bermanfaat. Insya Allah.

----

4 comments:

Anonymous said...

assalamu'alaikum sekedar informasi tepatnya jalannya saya kurang hapal gangnya tapi jalan itu berseberangan dengan pos polisi dekat pasar lenteng agung disitu terdapat markas kw9 dan kelihatannya merupakan basis besar sebab disitu terdapat komplek angkatan yg membuat mereka aman sebab ada pepatah lebih aman dikandang macan ngak ada yg curiga.

Anonymous said...

Assalamualaikum .... sekedar info daerah beji - depok juga merupakan basis kw9

Pencari Kebenaran said...

Akhirnya pencarian lama saya ketemu juga di blog ini ttg n sebelas panji.
saya eks mas'ul dari 941307 dan 9413 dari tahun 1994 sd 2001. Sekaligus termasuk salah seorang masul yang eksodus besar-besaran tahun 2001 dari jakbar. memang, panji itu benar-benar penipu, menyesatkan umat islam. anak buah saya dulu kebanyakan mahasiswa, yg saya ajak eksodus juga dan sekarang sudah pada gawe semua, mereka tetap menghargai saya sampai saat ini. pada masa saya sambil jadi masul, saya masih sempat kuliah untuk menyelesaikan S1, padahal teman-teman seangkatan saya rata-rata meninggalkan kuliahnya alias cabut atau DO, karena pada saat itu pimpinan menekankan untuk konsentrasi idariah, tapi saya tetap membangkang alias tetap pendirian saya, bahwa berjuang harus dengan ilmu. idariah saya dulu salah satu pen-supply mahasiswa untuk jadi masul di jakbar. menurut saya NII awalnya benar(versi SM Kartosuwiryo), tapi kebelakangnya ini yang disimpangkan oleh panji cs, yang disusupi oleh intelejen. Sampai saat ini, saya mengakui bahwa NII SM Kartosuwiryo lah yang benar, sedangkan NII panji itu tukang tipu umat islam, entah kapan kata dianya janji futuh. Panji perutnya buncit kenyang makan duit umat dan makanan enak, sementara umatnya ditindas, sementara rasul pernah perutnya diganjal batu menahan lapar, apa layak jadi khalifah dengan perut buncit???????????????
neraka jahanam saja pantasnya untuk panji.

Anonymous said...

yaa... ampun!!!
setelah saya baca blog ini, sama persis dengan apa yg saya alami... saya jg pernah jd jamaah NII KW9, tp hanya sekitar 2 bln.. slm 2 bln itu saya benar2 ragu dengan ajaran mereka.. dari mulai ga boleh berterus terang, boleh pacaran, harus bayar infak setiap bulan (pake target pula!!;-)..), orang2 lain dianggap kafir!!!astaugfirullah... fyi, di daerah dapur susu, pondok labu ada markas mereka dan di daerah depok (ke arah RS Prikasih).. itu saja.. terima kasih!!