Senin, 22 Oktober 2007

Perkembangan Terakhir NII KW9 dan Ma’had Al Zaytun

Source : dicky_cokro
Perkembangan Terakhir NII KW9 dan Ma’had Al Zaytun
If you can’t beat them, join them. Itu sepenggal peribahasa dari Barat, yang kini sedang menjadi ancang-ancang NII KW9 dan Ma’had Al Zaytun. Begitu banyak serangan dari mantan teman-temannya sendiri (bukan musuhnya ya, baca: Republik Indonesia)lama-lama bikin gerah Panji Gumilang juga. Perjalanan NII KW9 sejak reformasi di negara ini mengarah ke satu titik yang jelas, kompromistis.

Dalam doktrinnya, memang sedang berjuang dan diluar kelompoknya adalah kafir. Bahkan menggunakan hujjah, Nahnu Qaumu Yuharibu bi ma’unatil Musrikin (maaf kalau ada yang salah kata). artinya, kami adalah orang yang berjuang tanpa meminta bantuan dari orang-orang musyrik, dalam hal ini orang RI. Namun, apa lacur, hujjah itu hanya untaian kata tanpa isi.

Tahun 1999, masul fungsional yang menetap di Al Zaytun dikomando untuk nusuk GOLKAR. Tahun 2004, mas’ul fungsional diperintah imamnya untuk nusuk Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) yang dipimpin R. Hartono dan Tutut. Tak lama berselang, setelah negosiasi kompensasi uang=suara dengan Wiranto, masul fungsional dan teritorial dikerahkan ke Al Zaytun untuk nusuk calon pasangan presiden Wiranto-salahudin wahid. Bayangkan 13.000 suara bulat untuk pasangan tersebut. Tentang penusukannya sendiri, anda pasti sudah tau kelanjutannya tentang ramainya kasus penggelembungan suara ini dibicarakan. lebih menyedihkan lagi, santri-santri Zaytun juga di paksa nusuk.

Kini, Al Zaytun dibawah naungan Partai Hati Nurani Rakyat (HANURA) pimpinan Wiranto untuk membantu memenangkan calonnya ke kursi kepresidenan. Taukah umat NII KW9? Barangkali. Tapi beranikah mereka kritis menanggapi ini? Tidak akan. Apa pasal? Mereka digambarkan bahwa Wiranto sudah menjadi bagian dari mereka dan merupakan pintu untuk mencapai futuh. karena harus taat dengan ulil amri, ya percaya saja. Sampai sini anda sudah bisa menebak kan siapa menggalang siapa.

Sah-sah saja memang di negara yang tidak jelas ini melakukan itu semua, apalagi azas demokrasi ukurannya. Tapi, apakah begitu mudahnya aqidah digadaikan atas nama perjuangan, walaupun meminta bantuan kepada orang musyrik?. Entahlah. Tapi itu yang diyakini sekarang.

Politik pencitraan yang dilancarkan Panji Gumilang telah lama dilakukan. Panji mampu membayar dan menginstruksikan semua jamaah untuk membeli oplah beberapa media cetak yang menjadi corongnya. Salah satu diantaranya majalah Garda. Bayangkan, untuk artikel biasa saja, Panji menjamin pembelian 2.000 eksemplar diluar uang yang dibayar dimuka. Berhasilkah? Ya. tapi dilakalangan mereka sendiri untuk menaikan semangat umat. Diluar, citranya masih belum membaik. Buktinya, ketika dia membayar sebuah Koran untuk memuat dirinya sebagai calon DPRD di Jawa barat, ramai-ramai orang menjegalnya.

Dari kaum muslimin, ada beberapa langkah yang membuat Panji berbelok meminta dukungan dari kaum sepilis (sekuler, pluralis dan liberalis). Tahun 2002, FUUI membuat fatwa sesat tentang ajaran NII KW9, tahun 2003 MUI mengeluarkan penelitian yang menghasilkan hal yang sama dengan FUUI, tahun 2004 Litbang Depag memperuncing penelitian MUI. Hasilnya, NII KW9 sesat menyesatkan dan jelas hubungannya dengan Ma’had Al Zaytun Untuk penelitian Depag sudah ada buku yang diterbitkan tentang perkara ini.

Melihat perkembangan tersebut, Panji yang tahun 2003 diangkat menjadi ketua Alumni IAIN Syarif Hidayatullah merapat terus ke tokoh-tokoh ynag menempatkan dirinya menjadi tokoh islam moderat, seperti Nurcholis madjid dan Azyumardi Azra. Untuk membuktikan bahwa Zaytun tidak radikal dan bukan NII, Panji membangun gedung kalimatun sawa (kalimat yang sama) yang menampung santri dari Kristen, katolik, Budha, Hindu dll. Tambah runyam jadinya. Umat Kristen dijadikan teman, umat islam dikafirkan. Contoh yang gres, ketika pendeta katolik datang ke Zaytun disambut dengan shalawat badar. Sedangkan umat Islam yang datang, tidak akan ditemui Panji kecuali membawa uang sumbangan minimal 100 juta.

Memang, hal-hal yang tersebut diatas merupakan kebohongan bila dilihat dari dalam NII KW9. Bila dilihat dari luar, betapa nistanya perjuangan yang sedang dijalankan.

---

Minggu, 21 Oktober 2007

Modus Baru Perekrutan NII KW9

Source:dicky_cokro
Modus Baru NII KW9!!
Semakin terdesak, maka semakin banyak akalnya. Mungkin idiom itu cocok dengan kondisi yang sedang terjadi dikalangan mas’ul dan jamaah teritorial NII KW9. Tiga hari yang lalu, saya mendapat sms dari beberapa teman. Mereka mengadu bahwa ada jaringan yang sama sedang mengolah suatu modus untuk membuat daftar perekrutan lewat respon sms. Bunyinya seperti ini, "tlg di frwrd, dicari gol darah AB Rh- u/ mbantu Dian Ekonomi 06 UNPAD, kanker otak stadium 4. jika ada tlg hub Ketut 081804167497. fwd please..kritis..tlg frwrd ke semua"

Awalnya saya anggap sms biasa sebelum ada lima sms yang sama namun dengan nama asal (DIAN) dari kampus yang berbeda. Di sms lain, Dian adalah anak UPN Ekonomi 06, Binus dan FE UI. usut punya usut, ternyata Ketut itu adalah kader NII KW9. Menurut kawan-kawan dari UI, modus ini digunakan untuk merekrut orang-orang yang merespon ke nomor ketut yang bertindak sebagai CP dalam sms tersebut. Luar biasa bukan… Bayangkan kalau determinasi seperti ini digunakan benar-benar untuk berjihad di jalan Allah.

Selain modus diatas, gaya baru yang digunakan untuk perekrutan anggota baru dari kalangan SMU maupun mahasiswa baru adalah dengan menyebar questioner dan meminta biodata peserta questioner yang kemudian menjadi bahan utama perekrutan. hanya menunggu hari, para peserta questioner akan dihubungi untuk diikutsertakan dalam survei lanjutan yang akan berkembang menjadi perekrutan. Modus ini sedang berjalan di beberapa kampus di Jakarta, terutama untuk mahasiswa baru. Jaringan yang menggunakan modus ini juga menggunaka buku tahunan SMU-nya untuk mempermudah pergerakannya.

Menanggapi respon Mas Aji tentang Al Qur’an suci yang sempat heboh di Bandung beberapa waktu lalu, Saya hanya bisa menyatakan satu hal, mereka dari jaringan yang sama dengan NII KW9. Al Qur’an suci merupakan nama gerakan yang diangkat media, namun secara eksplisit belum ada nama yang muncul dari semua data yang ditemukan dirumah beberapa korban. Dari data yang saya lihat di detik, tidak ada keraguan dalam diri saya bahwa mereka KW9. namun, memang, jaringan yang berkembang bisa dari NII KW9 dari wilayah 7 (Jabar Selatan) atau Thaifah dari Jakarta yang banyak merekrut mahasiswa Bandung. Perlu diketahui bahwa Teritorial yang merekrut menjadi jamaah hanya enam wilayah, yaitu wilayah 1 (Jabar Utara), wilayah 2 (Jawa tengah), wilayah 3 (Jawa Timur), wilayah 7 (Jawa barat Selatan), wilayah 9 (Jakarta Raya) dan wilayah 18 (Malaysia). Selebihnya, kalau ada, hanya thaifah yang berbaiatnya di Jakarta atau di sekitar Ma’had Al Zaytun. Hampir semua Koordinator wilayah yang berasal dari masul Daerah dan Distrik yang ditempatkan di 28 propinsi hanya merekrut calon santri dan menggalang kekuatan simpatisan lewat dewan wali santri. Mereka tidak boleh merekrut orang menjadi NII.

Setiap wilayah yang bergerak (terutama yang enam) memiliki modus yang berbeda. Termasuk yang kini muncul dengan nama Al Quran suci. Gerakan ini sebenarnya sudah masuk Jakarta. Bahkan, sudah pernah ditangkap di Universitas Indonesia pada Bulan April olrh keamanan kampus. Dari empat orang yang ditangkap, semuanya adalah mahasiswi UNPAD yang seang merekrut mashsiswi UI. Data yang ada di deti dengan data yang saya temukan di lapangan, sama persis. Justru jaringan ini lebih rapi dan termanage secara tertulis. Dan, nuansa Multi Level Marketing sangat kental sekali. Dalam data-data itu juga muncul nama tsani atau nama kiri, syahid hijrah (tetapi bukan Isa Ilyas atau Malik Ridwan yang digubakan di Jakarta), daftar setoran, tilawah dll. Pendeknya, mereka dari kelompok yang sama dengan NII KW9.

Terakhir, tentang modus, terutama menjelang Idul Adha, mereka akan membuat proposal untuk menampung uang qurban. Dari uraiannya, memang ada harga-harga kambing yang menjadi pilihan bagi orang yang akan berkurban. Namun, ada alokasi lain yang digunakan “seakan-akan” untuk memberikan bea siswa bagi siswa berprestasi. Tahun lalu mereka menggunakan nama Ikatan Sarjana Muslimin Indonesia, sekertariatnya konon di daerah Depok, tapi semua pake hp jadi sulit dilacak. Target untuk modus ini biasanya orang tua yang anaknya aktif di NII KW9.

Senin, 08 Oktober 2007

NII / NKA Abu Toto dan ex Masul


Source : Ex-Exponen NII Zaytun

# dicky Berkata:
Oktober 7th, 2007 pada 2:29 pm

Untuk bang AMIN,

Pada tahun 1993, Syamsul Alam alias Abu Toto diangkat menjadi Mudabir bi Yabah menggantikan H. Rais Ahmad yang baru saja tertangkap KODIM setelah memimpin KW9 selama delapan bulan. Konon, menurut para petinggi KW9 yang pernah bersama Abu Toto, ada kemungkinan “main mata” antara Syamsul Alam dengan KODIM untuk melengserkan H. Rais Ahmad untuk kemudian menaikkan dirinya. Ketika mulai memimpin, secara sitemik dan struktur, Syamsul Alam merubah sistem yang ada, terutama untuk maasalah keuangan. Muncullah keputusan-keputusan yang dinamakan qoror. Qoror-qoror turun bertahap, seperti qoror harakah ramadhan, harakah qurban dan haraqah qirodh. Nah, untuk kasus yang ente sebutkan diatas, alokasi dana untuk qirodh menimbulkan euphoria perjuangan yang begitu besar. sehingga, dengan gaya kepemimpinannya yang lebih lugas dan rapi, Abu Toto mampu “menyihir” jamaahnya untuk mengorbankan seluruh hartanya untuk kepentingan perjuangan. Harakah qirodh adalah pinjaman negara atas umat dalam bentuk emas. Karena bentuknya pinjaman, maka negara wajib mengembalikan semua yang pernah disetorkan bersama dengan faedahnya sebesar 50% setiap lima tahunan. Hampir semua mas’ul dan umat yang konsis pada tahun-tahun itu berlomba-lomba memperbanyak setorannya. Mereka berfikir, waktu itu, akan kaya ketika dikembalikan, tentu dengan premis umum yang mengamankan Syamsul Alam, para mas’ul kan memegang amanaha, NII kan negara yang benar, tidak mungkin berbuat dzalim. Tapi, ternyata mereka salah.

Hingga kini, harakah qirodh masih dipungut, terutama sebagai syarat untuk tahkim, munakahat dan tartib bagi para mas’ul. Tapi besarnya tidak sefantastis dulu. Paling hanya kisaran satu hingga lima gram per orang per acara. Tapi, banyak juga ya kalau dihitung secara kolektif.

Harakah qirodh, dalam sejarah NII, hanya berlaku pada era Syamsul Alam alias Abu Toto. Dan, telah memberikan dirinya dana milyaran rupiah. Bahkan, pada tahun-tahun itu, para petinggi KW9 yang ada di sekeliling Abu Toto mendapat rumah di komplek BULOG Kranggan. Serta sebuah rumah mewah di DEsa Limo Cinere untuk Abu Toto yang kini ditempati oleh anak perempuannya (anak perempuan abu toto : sofia alwidad, anis)) yang sedang berkuliah di UIN Syarif Hidayatullah.

Haraqah qirodh dialokasikan, seharusnya, untuk penguasaan letak strategis, seperti pembelian tanah. Salah satunya di Indramayu yang sekarang menjadi ma’had Al Zaytun. Sejauh ini, hanya jamaah dan mas’ul saja yang berqirodh, para santri belum. Namun, untuk beberapa harakah, seperi qurban dan ramadhan, sudah diberlakukan umum untuk ssantri di Al Zaytun. Namun, jangan digeneralisir juga, tidak semua santri yang mondok di Al Zaytun anak orang NII ya. Hanya sepertiganya saja dari anak-anak mereka dan itu pun sebagian diberikan subsidi dari setoran para jamaah untuk Tabungan Pendidikan Anak (TPA). Jumlah santri selebihnya diambil dari masyarakat umum yang dikoordinir oleh para mas’ul wilayah yang berkamuflase dibawah Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) menjadi korwil untuk Al Zaytun di 28 propinsi di Indonesia.

Selama perjalanan kepemimpinan Syamsul Alam alias Abu Toto, 93-96 (sebagai komandan wilayah) dan 96 hingga kini (sebagai imam NII), telah banyak qorornya yang memakan korban. Jamaah yang menjual tanah dan rumah mungkin sebagian kecilnya saja. Kerusakan terbanyak hingga hari ini lebih meluas, hingga melakukan aksi-aksi kriminal. Teman-teman saya kebetulan banyak yang tertangkap untuk aksi penipuan dan pencurian. Diantara yang menjadi korbannnya, kini memberanikan diri untuk tampil dan meminta haknya. Apalagi setalah kasus pemberontakan Tentara Islam Indonesia (TII) di Al Zaytun yang melahirkan dekrit presiden 15 September 2001, beberapa mantan mas’ul daerah dan wilayah mulai menagih janji Abu Toto, terutama masalah qirodh. Beberapa ada yang datang ke Al Zaytun dan membuat rusuh disana sekitar tahun 2003an. Karena takut diketahui luas, akhirnya sang penagih dibayar setengah dari harta yang disetorkannya. Sejak itu, Al Zaytun tertutup untuk para mantan mas’ul. Paling tidak Abu Toto telah pasang kuda-kuda. Beruntun setelah kasus tersebut beberapa aksi pun dilakukan, terakhir sekitar empat bulan lalu. Dengan berbekal kwitansi pembayaran qirodh, mereka menagih. Namun, apa lacur, mereka dilempar sana-sini hingga cape dan hasil nihil. Banyak sekali alasannya. Intinya, mereka tidak mau bayar. Parahnya, mantan mas’ul yang menagih haknya ini dibilang perampok, pengkhianat dan harus dihindari. Subhanallah.

Yang harus dipahami dalam hal keuangan di NII KW9 dan Al Zaytun, semuanya bersifat sentralistik dan tidak ada audit. Untuk jaringan teritorial (di lima wilayah di Jawa) semua setoran untuk tingkat wilayah berpusat di rekening Abu Ma’ariq (nama alias Abu Toto juga, btw, nama aliasnya ada sembilan) di Bank CIC Jakarta. Sedangkan untuk jaringan fungsional yang mengatasnamakan korwil dan walisantri, semua setoran ke rekening AS Panji Gumilang lewat Bank Jabar. Dalam sistem penyetoran semua berjenjang sesuai dengan struktur. Dan, masing-masing struktur secara otomatis akan “menyunat” dana jamaah yang dikumpulkan dengan susah payah. Apa Pasal? Abis, mas’ulnya dapat dana dari mana untuk operasional? Tahukan anda, kalau gaji mas’ul desa di NII KW9 sebesar Rp. 125.000 saja per bulan. Itu pun hanya tanda tangan, selanjutnya diambil lagi untuk setoran yang kurang. Bagaimana tidak kurang, setiap bulan mereka harus memenuhi 9 pos keuangan wajib (tis’atal mawarid) dan 3-4 pungutan baru yang dilakukan di desa maupun kecamatan untuk kepentingan mareka.

Nah, namun, di NII KW9 strukturnya tersegmentasi. Ada yang jaringan buruh seperti di bekasi (91), pedagang di Jaktim (92) atau mahasiswa-pelajar di Jaksel (93) serta beberapa segmen lagi dari pembantu rumah tangga dan para tukang batu (Jakpus dan Jakut). Coba bayangkan, dari mana 5000 orang Muwadzaf (karyawan pembangunan) Al Zaytun datangnya kalau bukan dari para mas’ul teritorial yang dipindahkan ke fungsional. Dari segmen diatas, setoran dihasilkan dari bebagai macam cara.

Yang jelas, untuk masalah dana, tidak akan berhenti dalam waktu dekat, kecuali Allah memberikan pelajaran tegas kepada mereka. Jadi, para jamaah dan mas’ul, hingga hari tuanya dari masa produktifnya, hanya akan terkungkung oleh pola, modus, cara untuk bagaimana menghasilkan uang. Termasuk ente, Bang AMIN, akan melakukan hal yang sama bila terus berkutat di dalamnya. Ini dulu yang bisa dijawab, semoga bermanfaat. Insya Allah.

----