Monday, 2 June 2008

Futuh Mekkah ala NII KW9


Futuh Mekkah ala NII KW9
Antara Ketaatan dan Kenyataan
Sources : alikhwan.wordpress.com

Tahun 2009 merupakan tahun yang paling ditunggu para anggota NII KW9. Pasalnya, menurut program repelita Abu Toto, akhir perjuangan atau waktunya memeras anggur alias Futuh Mekkah, jatuh pada tahun tersebut. Tak pelak segala persiapan dilakukan untuk menyongsong waktu itu, termasuk gencarnya perekrutan dan penggalangan dana besar-besaran.

Bagi kebanyakan orang, yang bukan NII KW9, hal itu terkesan konyol. Bagaimana tidak, untuk memenuhi makan masyarakatnya sendiri saja, Republik ini harus jungkir balik usahanya, terlepas oknum yang korupsi tentunya. Lalu bagaimana memikirkan kesejahteraan sosial, keadilan hukum, syariat yang menyegarkan serta kemenangan gemilang tanpa syarat? Mimpi. Tapi, lain di RI, lain pula di NII KW9. Ketaatan adalah ukuran keimanan. Semakin taat, walaupun buta, semakin beriman seseorang. Jadi, walaupun dikatakan siap-siap untuk Futuh tahun 2009, maka itulah kebenaran yang harus diyakini.

Apa pasal anggota NII KW9 begitu yakin akan Futuhnya selain ketaatan buta?. NII KW9 menggunakan metode Hujurat (kamar-kamar) yang melokalisir pemahaman, tindakan serta otoritas pada sel masing-masing. Sehingga, apa yang terjadi di sel tertentu tidak akan diketahui sel lainnya. Itulah yang juga menjadi banyaknya perdebatan pada setiap anggota yang pernah masuk di tempat yang berbeda. Karena berbeda sel, berarti berbeda sistem dan kebijakan yang semuanya sesuai dengan karakteristik sosialnya. Bila sel mahasiswa yang ada, maka sistem yang berjalan sudah baik. Berbeda dengan sel yang isinya buruh atau pembantu rumah tangga. Yang sama adalah perintah dari pusat, berupa target setoran dan target perekrutan.

Sel-sel yang bergerak yang terstruktur dari tingkat Desa hingga Gubernur telah tersebar di seantero negeri. Tapi bukan berarti jumlah mereka juga sesignifikan penyebarannya. Jumlah mereka per bulan Juni tahun 2007, untuk Jakarta Raya hanya 151.880 orang setelah dipotong beberapa ribu dari anggota yang telah keluar atau kaslan. Seperti di daerah territorial NII KW9 Jakarta Barat, pada tahun 2001 jumlahnya sudah mencapai 14.000 anggota. Tapi tahun 2007 menurun drastis menjadi 7.000 anggota. Angka ini menurun disebabkan kasus pemberontakan pejabat NII KW9 pada September 2001 dan tidak menentunya kebijakan keuangan di tingkat pusat. Selain Jakarta Raya, empat wilayah lain tidak memiliki angka yang signifikan, seperti Jawa Barat Utara yang pada tahun 2001 mencapai angka 1800 anggota, kini hanya aktif 800 anggota saja. Jawa Barat Selatan yang mencapai 17.000 anggota pada tahun 2001, kini hanya berkisar 9000 anggota. Untuk wilayah ini justru ditinggalkan oleh tujuh orang petinggi wilayahnya sama seperti yang dilakukan pejabat wilayah di Jawa Barat Utara. Sedangkan untuk Jawa Tengah dan Jawa Timur, masing-masing berkisar angka 6.500 dan 3.000 anggota saja. Walaupun akhir-akhir ini marak NII KW9 di Jawa Tengah (Semarang dan Yogyakarta) justru bukan berasal dari gerakan territorial Jawa Tengah, melainkan dari territorial Jakarta, terutama Jakarta Selatan dan Jakarta Timur yang merekrut kalangan mahasiswa. Territorial Jawa Tengah hanya seedikit yang berasal dari kalangan mahasiswa. Kebanyakan mereka berasal dari pendidikan menengah, bila dilihat dari modus pencarian dananya. Jawa Tengah, pimpinannya, dikalangan NII KW9 hingga kini dikenal sebagai King Of Beggar (Raja pengemis), lantaran menggerakkan 3.000 jamaahnya untuk menjadi pencari sumbangan lewat proposal fiktif yang terkordinir dengan rapi. Setiap bulannya, Jateng berhasil menyetorkan 1,3 Milyar untuk Al Zaytun. Sedangkan para pemimpin wilayahnya masing-masing menggunakan mobil pribadi yang didapat dari hasil umatnya. Berbicara jumlah, memang NII KW9 sangat tidak signifikan. Namun, dampak yang dihasilkannya melebihi jumlahnya yang sedikit. Seperti kentut, sedikit keluarnya, tak terdengar, tak teraba namun busuk baunya.

Kedua alasan memang tidak menjelaskan apa-apa, kecuali betapa konyolnya ide Futuh NII KW9 dengan kualitas SDM dan kuantitasnya. Namun, diatas segalanya, celoteh pimpinan berupa mimpi-mimpi indah kedepan menjadi penghilang dahaga mereka yang telah mulai haus setelah lamanya perjuangan yang menguras segalanya. Melepaskan mimpi itu, sama saja melepaskan nyawa mereka. Hanya itu yang mereka miliki, lain tidak. Hanya mimpi itu yang mereka hidupi, lain tidak.

---
13:47 / by / 0 Comments

No comments:

Post Top Ad