Tuesday, 17 June 2008

NII AL Zaytun dan Kemunafikan

Setiap Muslim dimanapun mereka berada, pasti akan menginginkan bentuk pemerintahan yang Islami. Dan untuk menjadikan suatu pemerintahan yang Islami tentu butuh proses dan cara. Beberapa organisasi Islam sudah mewacanakan hal tersebut, sebut saja “Hizbut Tahrir”. Tetapi apa jadinya jika cara yang digunakan bertentangan dengan prinsip Islam itu sendiri?. Apa jadinya jika Islam hanya digunakan sebagai alat politik untuk kepentingan beberapa orang?. Tentu hal itu dilarang oleh Allah. Itulah yang ditengarai dilakukan oleh organisasi Islam yang tergabung dalam “Al-Zaytun”.


Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa Islam sebagai kendaraaan politik, yang hanya digunakan untuk kepentingan orang tertentu selalu berhasil?. Apakah kaum muslim lemah dalam hal Aqidah, sehingga setiap yang berlabel Islam atau sesuatu yang dinamai dengan bahasa Arab selalu menarik perhatian kaum Muslim?. Lemahnya dalam hal aqidah Islam akan membuat umat muslim mudah untuk didoktrin dengan paham Islam yang menyimpang. Manusia mudah untuk didoktrin karena mereka lebih kuat dalam hal perasaaan (jiwa) daripada rasio. Sedangkan Islam adalah keseimbangan antara perasaan, rasio dan tubuh (Mind, Body and Soul).

Seseorang yang terlalu kuat perasaannya dan lemah dalam rasio akan mudah untuk didoktrin, karena adanya suatu perasaan takut jika mereka tidak berlaku sesuai ajaran yang didoktrinkan. Mereka akan menjadi buta dalam hal pemikiran. Apa jadinya jika anda sudah terdoktrin?. Yang terjadi adalah anda akan mudah digerakkan, bagai kerbau dicocok hidungnya. Hubungan antara Ter-doktrin dan Ber-ilmu itu beda tipis. Orang yang ter-doktrin tidak mengerti sumber dan tujuan dari sebuah ajaran. Sedangkan orang yang ber-ilmu adalah orang yang bisa memberikan solusi dan tidak akan bisa men-doktrin. Orang yang ber-ilmu akan mencari kesesuaian antara rasio, hati dan kenyataan. Orang bisa ter-doktrin karena kurang ber-ilmu. Baik dalam Islam, Kristen dan agama lain sebagian dari mereka adalah orang yang ter-doktrin.


Menyikapi tentang Al-Zaytun sebenarnya lebih susah dibandingkan LDII. Karena Al-Zaytun itu ibarat kemunafikan. Disatu sisi selalu menggunakan ayat-ayat Al-Quran sebagai dalil tetapi perbuatannya jauh dari yang diinginkan Al-Quran. Kalau kita lihat ayat-ayat Al-Quran yang dipakai sebagai dalil, sekilas memang tidak ada yang salah, tetapi prakteknya tidak sesuai dengan falsafah Islam sendiri.

Ciri khas gerakan ini adalah penggalangan Dana diluar kaidah Islam. Lebih bersifat pemaksaan dan penghukuman bagi yang tidak bisa memenuhi target.

MUI telah menemukan beberapa kejanggalan dari hasil penelitian Tentang Ma’had Al-Zaytun, diantaranya antara lain :

  1. Ditemukan indikasi kuat adanya hubungan (relasi) antara Ma’had Al-Zaytun dengan organisasi NII (Negara Islam Indonesia) KW IX. Hubungan tersebut adalah bersifat historis, finansial, dan kepemimpinan
  2. Terdapat penyimpangan paham dan ajaran Islam yang dipraktikkan organisasi NII KW IX. Salah satunya antara lain dalam hal mobilisasi dana yang mengatasnamakan ajaran Islam yang diselewengkan,
  3. Penafsiran ayat-ayat Al-Quran yang menyimpang dan mengkafirkan kelompok di luar organisasi mereka
  4. Ditemukan adanya indikasi penyimpangan paham keagamaan, misalnya dalam masalah zakat fitrah dan kurban yang diterapkan oleh pimpinan Ma’had Al Zaytun, sebagaimana dimuat dalam majalah Al-Zaytun. Zakat Fitrah dan Kurban dapat diganti dengan uang tetapi pemanfaatannya untuk kepentingan Al-Zaytun , bukannya untuk Fakir miskin
  5. Persoalan Al-Zaytun terletak pada aspek kepemimpinan yang kontroversial, yang terkait dengan organisasi NII KW IX.
  6. Ada indikasi keterkaitan sebagian koordinator-koordinator wilayah yang bertugas sebagai tempat rekrutmen santri Al-Zaytun dengan organisasi NII KW IX

Ayat & surat Al Qur’an yang dipakai di NII antara lain :

  1. Surat Adz Dzariyat : 56
  2. Surat Al Maidah : 50
  3. Surat Al Anfal : 35
  4. Surat An Nisa : 140
  5. Surat An Nisa :140
  6. Surat Ar Ruum :31, 32
  7. Surat Asy Syuura :13
  8. Surat An Nisa : 97
  9. Surat At Taubah : 20
  10. Surat Ibrahim : 24
  11. Surat Albaqarah : 185
  12. Surat Al Maidah : 44-50
  13. Surat An Nisa: 97
  14. Surat At Taubah: 20
  15. Surat An Nisa : 28
  16. Surat Ibrahim : 28
  17. Surat Ash Shaff : 3
  18. Surat Muhammad :2,8,9
  19. DLL

Dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran tersebut, mereka memandang bahwa Negara yang mereka diami (Indonesia khususnya) adalah suatu Negara dalam kondisi “periode Makah” awal Islam. Sehingga dalam berhukum mereka terkadang “nyleneh”, misalnya tidak shalat tidak masalah karena saat awal periode “Makah” belum ada perintah shalat. Mereka membandingkan dua sistem pemerintahan “Periode Makah” dan “Periode Madinah” terhadap Negara Indonesia.

PERIODE ISLAM DAN HUBUNGANNYA DENGAN INDONESIA

Makkah=Republik Indonesia
-Tidak memakai hukum Islam
-RI=Pancasila=Thogut
-Neraka ( Dasarnya QS17:36 dan QS 47:8-9 )

Madinah=Negara Islam Indonesia (NII)
-Negara memakai hukum Islam
-NII=Hukum Islam + Allah
-Suci kembali, Surga (Dasarnya QS 47:2)

SEHINGGA DIPERLUKAN HIJRAH, Dari mana hijrah?
Dari : Republik Indonesia + Pancasila + Thogut
Ke : Negara Islam Indonesia + Hukum Islam /Al Qur’an + Allah SWT.

Hijrah disini sebagai artian untuk ibadah, Mereka tidak mengakui ibadah Muslim (shalat, zakat, puasa dll) di RI (Republik Indonesia). Menurut mereka RI bukan tempatnya karena di RI ada yang judi, mabuk, zina dll, jadi ibadahnya tidak diterima. Menurut mereka, tidak diterimanya ibadah karena umat Islam berhukum RI/jahiliyah yang segala macam ada sampai diibaratkan sebuah tempat sampah. Mereka mengibaratkan buah apel yang bagus dimasukkan ke dalam tempat sampah yang bercampur segala macam kekotoran. supaya apel yang ada di tempat sampah itu tetap baik/bagus maka harus dipindahkan ke tempat yang lain. Mereka menyimpulkan : Supaya puasa, shalat ,zakat diterima, maka harus pindah (hijrah) ke negara Islam Indonesia (NII). Yang menjadi pertanyaan, bukankah NII berada di Indonesia?. Kalau demikian makna hijrah, berarti mereka salah dalam memaknai, mereka memaknai hijrah secara fisik, padahal seharusnya secara mental.

Sekilas jika dicermati, ajaran mereka ini sebenarnya bagus, yaitu ingin menerapkan hukum Allah (Islam), yang menjadi ganjalan adalah cara-cara yang mereka gunakan sangatlah tidak lazim dan bertentangan dengan prinsip Islam itu sendiri, terkesan munafik, ambigu atau apalah namanya. Mereka menjual agama untuk kepentingan orang tertentu. Berikut ini adalah pengakuan beberapa korban Al-Zaytun sebagaimana di paparkan oleh FUUI (Forum Ulama Umat Islam), dll :

  1. Setiap Muslim di luar kelompok mereka adalah Kafir dan halal darah & hartanya.
  2. Perbuatan dosa besar antara lain : Zina dan perbuatan maksiat lainnya dapat ditebus dengan uang dalam jumlah yang telah ditetapkan.
  3. Tidak ada kewajiban meng-qadha (mengganti) Puasa Ramadhan, tetapi cukup hanya dengan membayar uang dalam jumlah yang telah ditetapkan.
  4. Anggota wajib menggalang dana, dilakukan dengan berbagai cara baik halal atau haram. Misalnya mencuri atau menipu harta setiap Muslim di luar golongan termasuk orang tua sendiri.
  5. Taubat hanya sah jika membayar dalam jumlah yang telah ditetapkan. Mereka menyebutnya ‘shadaqah istighfar”.
  6. Ayah kandung tidak sah menikahkan putri/putranya jika belum masuk kedalam golongan Al-Zaytun
  7. Yang wajib menjalankan ibadah haji adalah pimpinan (mas’ul) dalam gerakan ini.
  8. Aturan dasar Al-Zaytun lebih tinggi derajadnya di banding Al-Quran, sehingga menginjak Al-Quran pun tidak dianggap dosa.
  9. Shalat Fardu (shalat 5 waktu) tidak utama. Yang utama adalah ibadah dalam pengertian “ibadah aktivitas/berinteraksi secara langsung dengan masyarakat”.
  10. Tidak shalat bisa diganti dengan uang, meninggalkan shalat tidak berdosa karena telah ditanggung imam. Mereka berpendapat bahwa Indonesia itu sama dengan suatu masa pada periode Makah ketika Rasulullah pertama kali menyebarkan Islam. Sehingga kewajiban shalat tidak ada.
  11. Anggota dilarang mempertanyakan kemana uang itu. Uang yang disetor bukan untuk fakir miskin tetapi membangun Al-Zaytun

Anda-anda hati-hatilah, jangan berkeinginan untuk masuk jadi anggotanya, karena sekali anda jadi anggota, anda akan susah melepaskan diri karena akan diteror oleh yang lain. Anda wajib memenuhi target menyetor uang dan kalau tidak memenuhi target bisa-bisa “Bogem Mentah” mendarat di tubuh anda. Doktrin mereka antara lain “Kalau mau taat kepada Allah taatlah kepada Rasul, kalau mau taat kepada Rasul taatlah kepada ulil amri”. Hal inilah yang membuat doktrin bahwa apa yang diajarkan dan dilakukan atasan tidak bisa dikritik, harus dijalankan anggota.

(Dari berbagai sumber)

By MAGE

---

18:36 / by / 0 Comments

No comments:

Post Top Ad