Tuesday, 8 July 2008

Modus Gaul Gerakan NII

Modus Gaul Gerakan NII

Rasa takut membuatnya tak mau menyebutkan identitas diri. "Panggil saja saya Sodikin," katanya, sambil membolak-balik koran kumal edisi tiga pekan lalu. Di koran itu terpampang berita penangkapan 17 tersangka anggota Negara Islam Indonesia (NII) oleh jajaran Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat pada awal Mei. Para tersangka dicokok di tiga tempat berbeda, yakni Cimahi, Cihanjuang, dan Riung Bandung. Mereka melakukan upacara hijrah, ritual kepindahan warga negara bagi anggota baru dari Republik Indonesia ke NII.
Pada penggerebekan itu, sebetulnya polisi menangkap 35 orang. Namun sisanya adalah anggota baru yang sedang menjalani hijrah. Polisi hanya menetapkan mereka sebagai saksi. Sebetulnya, kata Sodikin," "Mereka yang dibodohi NII sudah banyak, termasuk saya."

Dua tahun sudah pria berusia 26 tahun itu memutus kontak dengan kelompok ini. Tapi ia belum merasa aman dari uberan mereka. Perkenalan Sodikin dengan NII terjadi selepas dia lulus sekolah menangah atas, tahun 2000. "Berawal ketika saya mau mendalami agama," ujarnya.

Atas ajakan sohibya yang rajin menunaikan salat dan pengurus dewan kemakmuran masjid di kampungnya, warga Cijerah, Bandung, itu mengikuti sebuah pengajian di Cimahi setiap Kamis sore. Pesertanya para remaja, rata-rata seusia dirinya. "Saya nyaman melihat pesertanya seumuran," tuturnya.

Empat pekan berlalu, Sodikin mulai menemukan sejumlah kejanggalan. Satu di antaranya, tempat pengajian selalu berpindah-pindah. Begitu juga ketika pengajian berlangsung, suara radio atau alunan musik malah dibiarkan kencang. Sodikin sempat mempertanyakan hal itu. Namun sang mentor menjawab enteng, "Materi ini tidak boleh didengar sampai keluar, hanya orang tertentu yang bisa mendapatkannya."

Pengajian itu juga memperbolehkan sang mentor berduaan dengan peserta lawan jenis. "Darurat dakwah istilahnya," kata Sodikin, menirukan jawaban mentor.

Pernah Sodikin terlambat datang ke suatu tempat pengajian, Dari luar sepi-sepi saja seperti tidak ada kegiatan. Tapi, ketika ia masuk, ternyata sudah banyak peserta pengajian di sana. "Kenapa sepi-sepi saja dari luar?" katanya heran. "Jangan sampai intel tahu," jawab seorang peserta.

Mendengar nama intel disebut, Sodikin tambah kaget. "Apa hubungannya pengajian ini dengan intel?" ucapnya. Lalu muncul penjelasan bahwa intel itu bagian dari Pemerintah Indonesia. " Indonesia itu pemerintahan thogut, kafir!"

Pengajian itu memang dirasakan oleh Sodikin lebih banyak menyebarkan kebencian terhadap Pemerintah Indonesia. "Ajaran Islam yang tengah kita pelajari itu akan terlaksana jika kita meruntuhkan pemerintahan yang kafir," katanya, menirukan sang mentor.

Pada suatu waktu, Sodikin pun diberitahu bahwa pengajian yang diikutinya tak lain gerakan NII. Pada setiap pengajian, seluruh peserta diminta beriuran. "Sebulan Rp 150.000 per orang," tuturnya.

Lama-kelamaan Sodikin menjadi bimbang atas langkah yang ditempuhnya. Walau sudah lama mengikuti pengajian, pengetahuan agama Sodikin tidak bertambah kaya. "Karena yang diajarkan berupa doktrin melulu," katanya. Sodikin mulai sering bolos pengajian. Namun, setiap mangkir, Sodikin selalu didatangi dan dibujuk untuk kembali. Terkadang ia diancam. "Saya tersiksa," ia menambahkan.

Sodikin akhirnya lari ke Surabaya, bersembunyi di rumah pamannya. Setelah dua tahun di persembunyian dan merasa aman dari kejaran kelompok NII, ia baru berani kembali ke Cijerah. Kini Sodikin bisa sedikit lega setelah mendengar kabar tentang penangkapan 17 tersangka NII. "Setelah sekian tahun, akhirnya terbongkar juga," katanya. Lebih-lebih, yang kini mendekam di sel tahanan itu bukan level keroco.

***

Mereka yang dituding sebagai warga NII dan kini mendekam di sel tahanan, seperti diutarakan Kapolda Jawa Barat, Inspektur Jenderal Susno Duadji, adalah para "pejabat" NII. Mulai Wakil Gubernur Jawa Barat Selatan, bupati, pembantu bupati, wedana, camat, hingga tenaga rekrutmen. Pada saat penangkapan, polisi juga menemukan sejumlah dokumen. Satu di antaranya menjelaskan struktur pemerintahan NII.

Dalam dokumen itu disebutkan bahwa NII terbagi ke dalam dua wilayah. Wilayah I terdiri dari kawasan Malaysia, Kalimantan, Ambon, Sulawesi, dan Irian. Wilayah II mencakup Sumatera, NTT, NTB, Jawa, dan Timor Leste. Khusus wilayah Jawa Barat Selatan, NII membaginya ke dalam 77 kabupaten. "Jawa Barat Selatan bisa jadi salah satu pusat penyebaran," kata Susno. Pihak polda tengah mengembangkan penyelidikan kemungkinan berkembangnya organisasi ini di Jawa Barat. "Disinyalir kuat, NII telah membentuk Provinsi Jabar Utara, selain Provinsi Jabar Selatan," kata Susno.

Kecurigaan Susno klop dengan temuan Taufik Hidayat, peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam. Hanya saja, apa yang disebut Susno pembagian dua wilayah besar, menurut Taufik, sebetulnya adalah dua jalur besar. Sebab tiap-tiap jalur memiliki beberapa wilayah. Jalur I, yakni dari Aceh hingga Timor Leste, memiliki 17 wilayah. Sedangkan jalur II, dari Malaysia hingga Irian, memiliki 11 wilayah.

Tiap-tiap wilayah dipimpin oleh gubernur. Namun, hingga kini, gubernur yang definitif baru ada di Wilayah IX Jakarta, Wilayah X Jawa Barat Utara, Wilayah XI Jawa Barat Selatan, Wilayah XII Jawa Tengah, Wilayah XII Jawa Timur, dan Wilayah XVIII Malaysia.

Sebetulnya, kata Taufik, kasus yang mencuat di Bandung itu tak lain adalah seri ulangan peristiwa yang terjadi pada pertengahan 1990-an dan awal reformasi, tahun 2000-an. Ketika itu, beberapa kampus ternama di Bandung heboh karena mahasiswanya banyak terseret NII. Kuliah mereka berantakan, dan banyak di antaranya yang putus hubungan dengan keluarga.

Pada saat itu muncul tudingan, Abu Toto alias Panji Gumilang, pimpinan Pesantren Al-Zaytun, Indramayu, berada di balik gerakan ini. Namun tudingan itu ditepis Panji Gumilang. Alih-alih diselidiki aparat keamanan, Panji Gumilang malah kerap disambangi pejabat pemerintah.

Sebelum penggerebekan di Bandung, Taufik mengaku sedang bekerja sama dengan Mabes Polri untuk membongkar gerakan itu di Jakarta. "Sasarannya sudah jelas, mulai nama, alamat, hingga jabatannya," ujar Taufik. Orang-orang itu, kata Taufik, juga aktif di Al-Zaytun. "Namun mereka memakai nama berbeda," katanya.

Sayang, sebelum operasi membuahkan hasil sekaligus untuk membuktikan adanya keterkaitan gerakan ini dengan Al-Zaytun, keburu terjadi penangkapan di Bandung. "Mereka tiarap dan bersembunyi," tutur Taufik. Padahal, menurut Taufik, gerakan NII di Jakarta jauh lebih agresif. Disinyalir, mereka telah merekrut ribuan anggota baru. Keberhasilan ini tak lepas dari penyempurnaan sistem dan modus operandi dalam menggaet anggota baru. Sebagai ideologi, kata Taufik, NII sebetulnya sudah ada. "Yang ada adalah NII gadungan, dengan tujuan merusak citra Islam," ujarnya.

Bila sebelumnya pencarian anggota baru berlangsung di masjid-masjid kampus, sekarang hunting ke seantero kampus, mal, hingga toko buku. Calon korban pun tidak lagi yang sedang "haus" mendalami agama. Identitas calon korban terlebih dulu diketahui. Informasi ini biasanya didapat dari buku alumni. "Dari beberapa kali penggerebekan yang dilakukan, kami mendapatkan barang bukti berupa buku alumni," kata Taufik.

Proses pendekatan pun tak lagi terkesan pengajian. Seorang calon korban biasanya didekati oleh dua orang. Yang satu berperan sebagai pemancing, satunya lagi bertindak sebagai pengajak. Pemancing biasanya lebih dulu "merapat" pada korban.

Bila calon korban seorang perempuan, pemancing --biasanya perempuan juga-- mengenalkannya kepada seorang laki-laki ganteng yang sebetulnya berperan sebagai pengajak. Dalam obrolan, yang biasanya sambil makan di food court, pemancing berpura-pura sebagai calon jamaah baru dan tertarik atas ajakan si ganteng. Sampai akhirnya, secara tak sadar, korban terjerat oleh ajakan itu. Ujungnya, penggalangan ala NII pun berlanjut.

Hidayat Gunadi, Rach Alida Bahaweres, dan Wisnu Wage Pamungkas (Bandung)
[Nasional, Gatra Nomor 29 Beredar Kamis, 29 Mei 2008]

http://gatra.com/artikel.php?id=115304

18:14 / by / 0 Comments

No comments:

Post Top Ad