Thursday, 27 November 2008

Kades NII Setor 16 Juta /Bulan


Harus Kumpulkan Uang Rp 16 Juta/Bulan
Sonny Budhi R

POKOKNYA jangan sampai terjerat organisasi NII, karena bukan hanya pribadi kita saja yang tersiksa, namun keluarga, teman dan orang tak dikenal pun akan dirugikan.

Begitulah sepenggal kalimat yang dilontarkan DA (30), seorang mantan anggota NII yang pernah menjabat sebagai kepala desa (kades) di NII KW 9, Pulo Gadung, Jakarta. Saat ia ditanya kesannya saat menjadi bagian dari organisasi NII.

Saat menjabat kades NII, DA harus menyetor uang kepada organisasinya minimal Rp 16 juta per bulan. Uang itu memang tidak ia kumpulkan sendiir, melainkan oleh 49 orang anak buahnya. "Tapi, uang sebesar itu sangat sulit didapatkan meski dengan 49 orang. Namun ini wajib tertutup," ungkap DA.

DA bukan hanya diwajibkan kumpulkan uang Rp 16 juta. Ia sendiri pun harus menyetor uang 25 dolar AS untuk menutupi sembilan lubang kewajiban, seperti kewajiban kas negara, kewajiban saham, kewajiban beli tanah, dan lain sebagainya.

"Kalau tidak tertutup, saya pasti kena cacian dari kecamatan. Bukan itu saja, ancaman pun sering keluar," ucap DA.

Akhirnya dengan terpaksa, sambung DA, segala cara dihalalkan untuk menutup iuran uang organisasi itu. Baik dengan cara mencuri, menipu, atau hal negatif lainnya.

"Saya ini pernah maling beberapa kali, baik uang atau barang milik orangtua maupun teman. Bahkan menipu pun tak terlewatkan. Misalnya, saya menyuruh teman se-NII untuk meminta sumbangan berdalih pembangunan masjid di bus, stopan, atau di masjid sendiri. Padahal hasilnya disumbangkan untuk iuran uang organisasi," tutur DA.

DA menambahkan, dari uang Rp 16 juta yang dikumpulakannya, ia hanya mendapatkan jatah Rp 70 ribu. Uang itu disumbangkan lagi ke organisasi. "Artinya saya ini tidak mendapatkan apa-apa. Sehari-hari hanya memikirkan bagaimana menutupi iuran, meski saya dan teman-teman beberapa kali makan dengan lauk garam," ujarnya.

DA mengaku mulai masuk NII pada 1997. Saat itu ia masih aktif bekerja di sebuah perusahaan di Cianjur. "Awalnya ada teman kerja yang mengajak diskusi mengenai Islam. Karena saya tertarik, akhirnya saya menurutinya," kata DA.

Diskusi tersebut, lanjutnya, dilakukan di sebuah rumah kontrakkan. Selama enam bulan ia mengikuti pertemuan yang digelar seminggu dua kali itu. "Ujungnya, teman saya menyuruh saya untuk hizrah ke NII, dengan alibi kalau ingin menegakkan syariah Islam harus bentuk dulu Negara Islam," kata DA.

Entah doktrin yang begitu kuat, ujar DA, akhirnya ia memberanikan hizrah ke NII meski harus membayar uang penebusan dosa Rp 1 juta.

Selama empat tahun DA menjalankan kegiatan organisasi NII yang didominasi dengan aktivitas mencari uang iuran. Tak ketinggalan setiap lebaran Idul Fitri, ia diwajibkan berkumpul di markas besar NII yang terletak di Indramayu. "Kegiatan di Indramayu, paling kita silahturami dan berdiskusi mengenai perkembangan gerakan NII," ungkao DA.

Sampai pada 2001, ketika terjadi konflik antara Presiden NII dan Menteri Pertahanan NII, jelas DA, tiba-tiba ia berniat keluar organisasi tersebut. "Waktu itu, tiba-tiba saja saya berpikir, apa betul NII mau mendirikan negara bersyariat Islam atau hanya mencari uang dari anggotanya. Karena, shalat atau puasa saja boleh dilanggar. Kemudian mencuri, dan hal negatif lainnya dihalalkan asal uang iuran organisasi terkumpul," ucap DA.

Dengan keberanian, akhirnya Da keluar dari NII. Risikonya, ia harus terus bersembunyi. "Saya harus mengorbankan pindah rumah. Kalau tidak, pengawal NII selalu membuntutinya. Ancaman akan dipancung pun tak jarang saya dapatkan," tegas DA.

DA akhirnya berhasil keluar dari belengu NII. Bahkan, ia berhasil mengajak istri dan sejumlah temannya mengikuti jejaknya untuk keluar dari NII. (sob)

---

No comments: